PENGERTIAN KURIKULUM

1.   Pendahuluan

Banyak definisi kurikulum yang satu dengan yang lain saling berbeda dikarenakan dasar filsafat yang dianut oleh para penulis berbeda-beda.Walaupun demikian ada kesamaan satu fungsi, yaitu bahwa kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Di Indonesia pengertian kurikulum tertera pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat 19 dari Ketentuan Umum disebutkan bahwa: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajarmengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum yang terdiri atas berbagai komponen yang satu dengan yang lain saling terkait adalah merupakan satu sistem, ini berarti bahwa setiap komponen yang saling terkait tersebut hanya mempunyai satu tujuan, yaitu tujuan pendidikan yang juga menjadi tujuan kurikulum.

Pada dasarnya kurikulum berisikan tujuan, metode, media evaluasi bahan ajar dan berbagai pengalamanbelajar. Kurikulum yang disusun di pusat berisikan beberapa mata pelajaran pokok dengan harapan agar peserta didik di seluruhIndonesiamempunyai standar kecakapan yang sama. Kurikulum tersebut dinamai Kurikulum Nasional (Kurnas) atau Kurikulum Inti, sedang evaluasinya dilaksanakan dengan UN (Ujian Nasional), Kurikulum yang lain yang disusun di daerah-daerah disebut Kurikulum Muatan Lokal, evaluasinya dilaksanakan secaraUS(Ujian Sekolah).

2.   Pengertian & Teori Kurikulum

Tulisan ini membicarakan tentang pengertian kurikulum. Anda telah terbiasa mendengar kata kurikulum. Tetapi kalau ditanya kurikulum itu “makhluknya” seperti apa, siapa yang “menciptakan” mengapa disusun dan lain sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang-kadang kita butuh waktu untuk merenung. Pada awalnya istilah dan pengertian kurikulum dipakai dalam dunia olahraga pada zaman Romawi kuno di Yunani. Pengertian kurikulum di sini diartikan sebagai suatu jarak tempuh yang harus dilalui oleh seorang pelari mulai dari start sampai firfis. Secara etimologis, kurikulum (curriculum] berasal dari bahasa Latin yaitu Curere; to run yang dapat diterjemahkan: a running, course, carrier, race, etc.

Dalam lapangan pendidikan pengertian tersebut dijabarkan bahwa bahan belajar sudah ditentukan secara pasti, dari mana mulai diajarkan dan kapan diakhiri, dan bagaimana cara untuk menguasai bahan agar dapat mencapai gelar. Dulu kurikulum pernah diartikan sebagai “Rencana Pelajaran”, yang terbagj menjadi rencana pelajaran minimum dan rencana pelajaran terurai. Dalam kenyataannya di sekolah rencana pelajaran tersebut tidak semata-matahanya membicarakan proses pengajaran saja, bahkan yang dibahas lebih luas lagi yatiu, mengenai masalah pendidikan. Oleh karena itu istilah rencana pelajaran kiranya kurang kena.

Akibat dari berbagai perkembangan, terutama perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi, konsep kurikulum selanjutnya juga menerobos pada dimensi waktu dan tempat. Artinya kurikulum mengambil bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar tidak hanya terbatas pada waktu sekarang saja, tetapi juga memperhatikan bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar pada waktu lampau dan yang akan datang. Demikian pula tidak hanya mengambil berbagai bahan ajar setempat (lokal), kemudian berbentuk kurikulum muatan lokal tetapi juga berbagai bahan ajar yang bersifat nasional, yang kemudian berbentuk kurikulum nasional (kurnas) dan lebih luas lagi bersifat intemasional atau yang bersifat global.

Istilah kurikulum ini baru mulai muncul dalam kamus Webster’s tahun 1856[1]. Secara luas kurikulum (curriculum) dalam kamus Webster’s diartikan: [2]

1) The whole body of courses offered by an educational institution or one of its branch (widening the college), 2) any particular body of courses set for various majors, 3) all planned school activities including besides courses of study organised play, athletics, dramatics, clubs and home room program, 4) general education and breeding (people who had not learned courtesy inn the course of an elaborate) and a work schedule. Dalam kamus Webster’s yang lain, kurikulum diartikan[3] :a fix series of studies required, as in a college, for graduation, qualification in a major field of study, etc., 2) all of the courses, collectively offered in a school, college, etc., or in a particular subject.

Romine (1954)[4] mengemukakan bahwa ; “Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or pot” . Selanjutnya pada tahjun 1955, kurikulum d’iberi art! /. A course especially a specified fixed course of study, as in a school or colloge, as one leading to a degree. 2. The whole body of courses offered in educational institution, or department there of, the usual sense.

Kemudian muncul sejumlah definisi kurikulum yang disampaikan oleh beberapa ahli kurikulum, dan dapat menolong kita untuk lebih memahami kurikulum:[5]

J. Galen Saylor dan William M. Alexander (dalam bukunya Curriculum Planning for Better Teaching and Learning (1956)

” The Curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning, whether in the class or out of school”.

Segala usaha untuk mempengaruhi anak balajar, apakah di dalam kelas atau di luar kelas (termasuk kurikulum).

  • Harlob B. Albertycs, dalam  Reorganizing the High School Curriculum (1965) “All of the activities that are provided for students by the school

Semua kegiatan yang ada didalam dan diluar kelas yang disiapkan untuk siswa disekolah.

  • B. Othanel Smith, W.O Stanley dan J Harlan Shores;

“A sequence   potential experiences set up in the school for the purpose of disciplining children and youth in a ways of thinking and acting” Sejumlah pengalaman secara potensial yang dapat diberikan kepada anak dan pemuda agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyarakatnya

  • William B. Ragan, dalam buku Modern Elementary Curriculum (1996)

Kurikulum meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah yakni segala pengalaman anak di bawah tanggungjawab sekolah, tidak hanya meliputi bahan pelajaran tetapi seluruh kehidupan di sekolah, seperti hubungan antara guru dengan murid, metode mengajar, cara mengevalusi dan sebagainya.

  • J.   Lioyd   Trump   dan   Delmas   F.   Miller   dalam   buku Secondary  School Improvemant (1973)

Kurikulum; netode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, termasuk pengaturan waktu. Ketiga aspek pokok yaitu program, manusia dan fasitias sangat erat hubungannya.

  • Hilda Taba

Dalam memahami Kurikulum, Hilda menjelaskan bahwa difinisi kurikulum yang terlalu luas bisa mengaburkan pengertian kurikulum. Pada prinsipnya tiap kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakat. Tiap kurikulum, baimanapun polanya, selalu mempunyai komponen-komponen tertentu yakni pernyataan tentang tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar. Perbedaan kurikulum terletak pada penekanan unsur-unsur tertentu. Perbedaan kurikulum dengan pengajaran bukan terletak pada implemetasinya tetapi pada keluasan cakupannya.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum dapat dipahami dalam ruang lingkup:

  • Di dalamnya ada perencanaan kegiatan belajar mengajar melalui pengalaman siswa yang tidak dibatasi hanya dalam ruang kelas tetapi juga di luar kelas, merupakan aktivitas apa saja yang dilakukan oleh sekolah untuk mempengaruhi anak dalam belajar untuk mencapai tujuan.
  • Melalui berbagai kegiatan, siswa dibentuk untuk maju dalam pengetahuan, maju dalam pemahaman dan bertumbuh dalam keterampilan.
  • Sejumlah program belajar mengajar dengan jarak tempuh tertentu dan dengan berbagai metode/kegiatan sesuai potensi dan keadaan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
  • Suatu rencana yang memberi  pedoman atau pegangan dalam  proses belajar mengajar, baik secara lembaga, muapun dalam setiap bidang studi/kajian. Mempunyai komponen: tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan  kegiatan belajar mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar.

Dalam sejarah pendidikan diIndonesiayang di mulai dari diproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, maka tercatat sudah 8 kali kurikulum pendidikan nasional mengalami pengembangan, sebagai berikut:

  1. Kurikulum pertama tahun 1947. Kurikulum ini disebut sebagai rencana pelajaran 1947.
  2. Tahun 1964. Kurikulum ini disebut rencana pendidikan 1964.
  3. Tahun 1968.
  4. Tahun 1975. Dapat disebut kurikulum tahun 1975 lebih sistematik dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.
  5. Tahun 1984. Kurikulum ini adalah penyempurnaan kurikulum tahun 1975.
  6. Tahun 1994 ditambah dengan suplemen tahun 1999.
  7. Tahun 2004. Kurikulum ini disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Walaupun kurikulum ini belum memiliki landasan hukum pelaksanaan, menurut Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas dalam buku berjudul Kurikulum Berbasis Kompetensi (2002:19) bahwa kurikulum ini telah diuji-cobakan terhadap beberapa sekolah rintisan dan perluasan rintisan dari bulan Juli 2001 sampai dengan Juni 2004. Kurikulum inilah yang menjadi cikal-bakal munculnya Peraturan menteri Pendidikan Nasional (Permen Diknas) nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen Diknas nomor 22 dan 23.
  8. Tahun 2006. Kurikukum Tingkat Satuan Pendidikan

Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pada Tanggal 16 Mei 2005, tenaga pendorong yang sangat kuat yang memungkinkan terjadinya perubahan kurikulum pendidikan nasional. Pada pasal 2 ayat (1) mengungkapkan bahwa lingkup Standar Pendidikan Nasional meliputi 8 standar, yakni: Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lululusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana-Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan.

Pada Bab III tentang Standar Isi, bagian kesatu, pasal 5 ayat (1) demikian: Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Ayat (2) Standar Isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. Pada bagian keempat tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Pasal 17 Ayat (1) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial  budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. (2) Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Memperhatikan uraian sebelumnya, khususnya muatan pasal 17 ayat (2) di atas, penyusun dan mengembangkan KTSP adalah guru, atau sekolah bersama-sama dengan komite sekolah di bawah supervisi dinas kabupaten/kota setempat. Penyusunan KTSP tersebut harus mengacu pada karakteristik peserta didik, sosial budaya dan daerah setempat.

Dengan demikian kurikulum itu merupakan program pendidikan bukan program pengajaran, yaitu program yang direncanakan diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Berbagai bahan tersebut direncanakan secara sistemik, artinya direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai faktor pendidikan secara harmonis. Berbagai bahan ajar yang dirancang tersebut harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku sekarang, diantarnya harus sesuai dengan Pancasila, UUD1945, UU SISDIKNAS, PP No. 27 dan 30, adat istiadat dan sebagainya. Program tersebut akan dijadikan pedoman bagi tenaga pendidik maupun peserta didik dalam pelakasanaan proses pembelajaran agar dapat mencapai cita-cita yang diharapkan sesuai dengan yang tertera pada tujuan pendidikan.

Jadi kurikulum ialah: suatu program pendidikan yang berisikan berbagi bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat 19 dari Ketentuan Umum disebutkan bahwa: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajarmengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Unsur-unsur dalam definisi kurikulum tersebut adalah:

  1. Seperangkat Rencana; Seperangakat rencana, artinya bahwa didalamnya berisikan berbagai rencana yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Namanya saja rencana bukan ketetapan, mi berarti bahwa segala sesuatu yang direncanakan dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi (fleksibel).
  2. Pengaturan Mengenai Isi dan Bahan Pelajaran; Bahan pelajaran ada yang diatur oleh pusat (kurnas) dan oleh daerah setempat (kurmulok).
  3. Pengaturan Cara yang Digunakan; Delevery sistem atau cara mengajar yang dipergunakan ada berbagai macam, misalnya; ceramah, diskusi. demontrasi, inquiri, recitasi, membuat laporan portofolio dan sebagainya. Disarankan dalam pelaksanaannya proses pembelajaran hendaknya para guru menggunakan pendekatan yang student centered bukan yang teatcher centered. Yang bersifat heuristik (dengan diolah) bukannya yang bersifat ekspositorik (yang dijelaskan). Diantaranya yang kadar CBS-nya tinggi adalah yang bersifat heuristik.
  4. Sebagai Pedoman Kegiatan Belajar-Mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu; Penyelenggara kegiatan belajar mengajar terdiri atas tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan, sedang tenaga pendidikan, yaitu anggota masyarakat yang bertugas membimbing dan atau melatih peserta didik.

Banyak ahli kurikulum mengemukakan berbagai pengertian kurikulum yang satu dengan yang lainnya ada berbagi perbedaan dan kesamaan. Misalnya:

William B. Ragan

Kurikulum ialah semua pengalaman anak yang menjadi tanggung jawab sekolah.

Roberts. Flaming

Pendapat Flaming sama dengan pendapat Ragan, yaitu kurikulum pada sekolah modern dapat didcflnisikan seluruh pengalaman belajar anak yang menjadi tanggung jawab sekolah.

David Praff

Kurikulum ialah seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat pelatihan. Definisi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

  1. Rencana tersebut dalam bentuk tulisan.
  2. Rencana itu ialah rencana kegiatan.
  3. Kurikulum berisikan hal-hal sebagai berikut: Siswa mau dikembangkan kemana? Bahan apa yang akan diajarkan? Alat apa yang digunakan? Bagaimana cara mengevaluasinya? Bagaimana kualitas guru yang diperlukan?
  4. Kurikulum dilaksanakan dalam pendidikan formal.
  5. Kurikulum disusun secara sistemik.
  6. Pendidikan latihan mendapat perhatian.

Donald E Gay (1960) dalam Asnah Said, menggunakan beberapa perumusan kurikulum sebagai berikut:

  1. Kurikulum terdiri atas sejumlah bahan pelajaran yang secara logis.
  2. Kurikulum terdiri atas pengalaman belajar yang direncanakan untuk membawa perubahan perilaku anak.
  3. Kurikulum merupakan disain kelompok sosial untuk menjadi pengalaman belajar anak di sekolah.
  4. Kurikulum terdiri atas semua pengalaman anak yang mereka lakukan dan rasakan di bawah bimbingan belajar.

Nengly and Evaras (1967)

Kurikulum adalah semua pengalaman yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolah untuk menolong para siswa dalam mencapai hasil belajar kepada kemampuan siswa yang paling baik.

Inlow (1966)

Kurikulum adalah susunan rangkaian dari hasil belaiar yang disengaja. Kurikulum menggambarkan (atau paling tidak mengantisipasi) dari hasil pengajaran.

Saaylor (1958)

Kurikulum adalah keseluruhan uisaha sekolah untuk mempengaruhi proses belajar mengajar baik langsung di kelas tempat bermain, atau di luar sekolah.

Dalam pelaksanaannya, pengertian kurikulum tergantung dari sudut pandangnya. Keterangan dapat dipaparkan sebagai berikut: Walaupun hanya ada satu kurikulum tertulis yang di susun oleh satu kelompok kerja yang terdiri atas terbagai ahli bidang studi, kalau satu kurikulum tertulis tersebut ada di tangan tiga orang guru, maka akan terjadi tiga macam kurikulum yang diberikan. Kalau setiap guru tersebut menghadapi 30 orang siswa maka akan terjadi 30 macam kurikulum yang akan diterima.

3. Berbagai Macam Terminologi dalam Kurikulum

Untuk lebih memperkaya berbagai pengertian kurikulum akan dipaparkan berbagai terminologi dalam kurikulum diantaranya sebagai berikut:

Core Curriculum

Core artinya inti, dalam kurikulum berarti pengalaman belajar yang harus diberikan baik yang berupa kebutuhan individual maupun kebutuhan umum.

Alberty (1953) dalam Subandiyah mengungkapkan ada enamjenis core program, yaitu:

  1. Core program terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang masing-masing dapat diajarkan secara. bebas tanpa sistematik untuk mempertunjukan hubungan masing-masing pelajaran.
  2. Core program terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dihubungkan satu dengan yang lain.
  3. Core program terdiri atas masalah yang luas, unit kerja atau tema yang disatukan yang dipilih untuk menghasilkan arti mengajar secara efektif tentang isi pelajaran tertentu, misalnya: Pendidikan Agama, Matematika, IPS, dan 1PA.
  4. Core program merupakan masalah yang luas yang dapat memenuhi kebutuhan pisik, sosial peserta didik.
  5. Core program merupakan unit kerja yang direncanakan oleh peserta didik dan guru untuk memenuhi kebutuhan kelompok.

Dengan demikian Core curriculum mengandung:

  • tujuan yang mendasar dan luas,
  • bahan terdiri atas berbagai pengalaman belajar yang disusun atas dasar unit kerja,
  • metode yang digunakan sangat fleksibel,
  • bimbingan belajar sangat diperlukan.

Hidden Curriculum

Sesuai dengan namanya, hidden curriculum berarti bahwa kurikulum yang tersembunyi. Apa artinya tersembunyi? Tersembunyi berarti tak dapat dililiat tetapi tidak hilang. Jadi kurikulum tersembunyi ini tidak direncanakan. tidak diprogram dan tidak dirancang tetapi mempunyai pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap output dari proses belajar mengajar.

Valance (1973) mengatakan bahwa hidden curriculum meliputi yang tidak dipelajari dari program sekolah yang non akademik.

Kohelberg (1970) mengatakan bahwa hidden curriculum sebagai hal yang berhubungan dengan pendidikan moral dan peran guru dalam mentransformasikan standar moral.

Robert S. Zais (1981) mengungkapkan berbagai terminologi dalam kurikulutn sebagai berikut:

1.   Curriculum Fondation

Fondasi kurikulum yang disebut juga asas-asas kurikulum mengingatkan bahwa dalam menyusun kurikulum hendaknya memperhatikan filsafat bangsa yang dinamis, keadaan masyarakat beserta kebudayaannya, hakikat anak dan teori belajar.

2.   Curriculum Construction

Kontruksi kurikulum membahas berbagai komponen kurikulum dengan berbagai pertanyaan, misalnya:

  1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat baik itu ?
  2. Kemana arah tujuan pendidikan?
  3. Apa hakikat manusia itu ?
  4. Apa hidup yang baik itu ?
  5. Apa ilmu pengetahuan itu ?
  6. Bagaimana merancang kurikulum yang efektif ?
  7. Materi apa yang akan diberikan?
  8. Keaktifan yang bagaimana harus dilakukan sehingga mengait ke bahan belajar ?
  9. Seberapa jauh kita mernpertimbangkan kemanfaatan tujuan yang akan dicapai, isi dan keaktifan belajar ?

3.   Curriculum Development

Curriculum development atau perkembangan kurikulum membahas berbagai macam model pengalaman kurikulum selanjutnya, Yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum adalah: Siapa yang berkepentingan, guru, tenaga bukan pengajar, orang tua atau siswa? Siapa yang akan telibat dalam pelaksanaan pengembangan? Pihak karyawan, komisi-komisi yang akan dibentuk? Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana pengorganisasiannya?

4.   Curriculum Implementation

Curriculum implementation membicarakan seberapa jauh kurikulum dapat dilaksanakan. Oleh karena itu yang perlu di pantau adalah proses pelaksanaannya, evaluasinya. Selanjutnya atas dasar hasil evaluasi perlu tidaknya kurikulum di revisi untuk penyempurnaan.

5.   Curriculum Engineering

Curriculum enggineering disebut juga pembinaan kurikulum. Beauchamp (1981) mendefinisikan Curriculum enggineering sebagai berikut: Curriculum enggineering adalah proses yang memaksa untuk memfungsikan sistem kurikulum di sekolah. Dalam sistem ini ada tiga fungsi, yaitu:

  1. Menghasilkan kurikulum.
  2. Melaksanakan kurikulum.
  3. Menilai keefektifan kurikulumdan sistemnya.

Disamping istilah-istilah dari Robert S Zais, masih ada terminologi yang lain yaitu:

1.   Curriculum Improvement-Curriculum Change

Curriculum Improvement atau penyempurnaan kurikulum dan curriculum change atau perubahan kurikulum keduanya sebagai curriculum revision (Taba, 1981). Curriculum improvement menekankan pada perubahan-perubahan pada aspek tertentu tanpa mengubah konsep dasar pada kurikulum tersebut. Sedang pada curriculum change menekankan pada perubahan bentuk pada rangka, rancangan, tujuan isi, luas bahan kurikulum, dan keaktifan belajar

2.   Curriculum Theory

Teori kurikulurn berisikan berbagai konsep kurikulum atas dasar filsafat yang dianut oleh para penulisnya. Teori kurikulum selalu berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan IPTEKS.

3.    Curriculum History

Sejarah kurikulum membahas berbagai macam kurikulum pada masa yang lalu. Untuk bahan banding perenungan pengonsepan kurikulum yang akan datang.

4.   Curriculum Planning

Perencanaan kurikulum membahas berbagai penyiapan data, langkah-langkah yang akan ditempuh, kendala-kendala yang mungkin timbul, berbagai konsep yang sesuai, berbagai pengalaman yang mendukung, dasar-dasar hukum yang dipakai dan sebagainya. Kemudian pembentukan pokja yang dipilih untuk menyusun kurikulum yang diharapkan.

5.   Curriculum Evaluation

Evaluasi kurikulum membahas berbagai kegiatan memonitor, baik proses maupun produknya pada pelaksanaan kurikulum dengan maksud mencari data untuk keperluan revisi lebih lanjut. Dalam penilaian kurikulum ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

a.   Reflective evaluation

Reflective evaluation penilaian kurikulum sebelum kurikulum dilaksanakan. Jadi penilaian yang dilakukan di belakang meja atas dasar berbagai pertimbangan para ahli yang berupa landasan teori, hasil penelitian, pengalaman, musyawarah, dan sebagainya.

b.    Try out evaluation

Perlunya evaluasi pada try out, dengan harapan agar sebelum dilaksanan dicobakan terlebih dahulu pada skala kecil, pada beberapa sekolah yang dianggap dapat mewakili untuk diketahui berbagai kelemahan yang mungkin terjadi dan dijadikan bahan pertimbangan untuk diadakan revisi seperlunya.

c.    Formative evaluation

Setelah kurikulum yang di revisi atas dasar try out tersebut selesai, kemudian didesiminasikan ke sekolah-sekolah yang lebih luas lagi, dimonitor tahap demi tahap, komponen demi komponen, kemudian diadakan evaluasi. Evalusi demikian disebut formative evaluation.

d.    Summative evaluation

Evaluasi secara sumatif dilakukan dengan cara mengevaluasi secara keseluruhan baik prosesnya maupun produknya.

6.   Kurikulum Muatan Lokal

Karena bervariasinya situasi dan kondisi daerah diIndonesia, pemerintah menyerahkan berbagai studi yang bahanya di dapat didaerah setempat dengan koordinasi dengan Dinas Depdiknas setempat untuk menyusun kurikulum muatan lokal.

4.   Fungsi Kurikulum

Bila definisi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dapat dikatakan fungsi kurikukun itu berkaitan dengan komponen-komponen yang ada mengarah pada tujuan pendidikan. Komponen-komponen yang dimaksud dalam definisi tersebut adalah[6]:

  1. Apakah seperangkat rencana tersebat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai?
  2. Apakah komponen materi yang tersusun dalam kurikulum itu sesuai dengan tujuan yang dicapai?
  3. Apakah metode (cara) yang dipilih berfungsi pula untuk mencapai tujuan yang akan dicapai?
  4. Apakah para penyelenggara pendidikan berfungsi pula dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan pendidikan?

Yang terkait dalam kurikulum sekolah secara langsung ialah; guru, kepala sekolah, para penulis buku ajar, dan masyarakat. Berikut akan dipaparkan seberapa jauh keterlibatan mereka dalam melaksanakan kurikulum.

Fungsi berarti jabatan, kedudukan. kegiatan fungsi kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kalau salah satu komponen dalam kurikulum tidak berfungsi akan mengakibatkan komponen yang lain terganggu, fungsi kurikulum hagi guru sebagai pedoman untuk melaksanakan  kegiatan proses pembelaiar. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah sebagai pedoman untuk melaksanakan supervisi kurikulum terhadap para guru pemegang mata pelajaran.

Fungsi kurikulum bagi masyarakat mendorong sekolah agar dapat menghasilkan berbagai tenaga yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sedang fungsi kurikulum hagi para penuljis buku ajar untuk dijadikan pedoman dalam menyusun bab-bab dan tema-tema pelajaran beserta isinya. Sebagai bahan banding dipaparkan bahwa fungsi kurikulum diibaratkan sebagai kendaraan yang kedua-duanya mempunyai fungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, yang digambarkan sebagai berikut[7]:

  1. Auto (kendaraan) sebagai kurikulum.
  2. Sopir sebagai guru.
  3. Penumpang sebagai siswa.
  4. Tempat yang dituju sebagai txijuan pendidikan.
  5. Jarak yang ditempuh sebagai alat (Kompetensi dan Indikator).
  6. Hambatan di jalan sebagai kendala-kendala dalam PROSES PEMBELAJARAN.
  7. Bengkel sebagai biro perencanaan kurikulum

5.   Tujuan Kurikulum

Tujuan adalah segala sesuatu yang ingin dicapai. Segala sesuatu itu dapat berupa benda konkrit baik yang berupa barang maupun tempat, atau dapat juga berupa hal-hal yang sifatnya abstrak, misalnya cita-cita yang mungkin berupa kedudukan atau pangkat/jabatan maupun sifat-sifat luhur. Dengan kata lain tujuan dapat berupa hal-hal sederhana dapat pula berupa hal-hal yang komplek. Sedang cara penyampaiannya ada berbagai macam.Adayang hanya dengan kegiatan pisik, tetapi ada yang dengan cara membuat rencana dulu, diprogramkan, mencari dana barn mengerahkan tenaga baik pisik maupun psikis.

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan sendiri adalah sesuatu yang abstrak, ruwet, dan komplek.

Sebelum dibicarakan berbagai macain tujuan, akan dibedakan beberapa terminologi yang berhubungan dengan tujuan sebagai berikut:

  • Aim: yaitu suatu tujuan umum yang akan dicapai dengan relative makan waktu yang lain. Misalnya Tujuan Pendidikan Nasional.
  • Objective: Yaitu suatu tujuan yang berupa bagian dari aim yang diprogramkan secara bulat. Misalnya: Tujuan Institusional (tujuan lembaga).
  • Goal: Yaitu bagian tujuan dari objective yang berupa bagian-bagian yang diprogramkan secara utuh. Misalnya: Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau tujuan mata pelajaran.
  • Target: Yaitu sasaran tujuan pendidikan yang berupa berbagai pokok permasalahan. Misalnya: Tujuan

Instruksional Khusus (TIK), sasarannya adalah tujuan pokok bahasan atau tujuan sub pokok bahasan.

Keterangan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Hirarki

Sasaran tujuan

Contoh

Aim

Tujuan sistem

Tujuan Pendidikan Nasional

Objective

Tujuan komponen

Tujuan Instruksional / Stndar Kompetensi

Coal

Tujuan Variasi

TIU / Kompetensi Dasar

Target

Tujuan sub variasi

TIK / Indikator

1.   Jenis-Jenis Tujuan

John D.Mc. Neil (1977) mengemukakan empat macam konsepsi kurikulum dengan masing-masing tujuan yang berbeda-beda sebagai berikut:

  1. Konsepsi Kurikulum Humanistik, tujuannya mengutamakan perkembangan kesadaran pribadi (increasedpersonal awarness) untuk pencapaian aktualitas din.
  2. Konsepsi Kurikulum Rekontruksi sosial, tujuannya untuk menyiapkan peserta didik agar dapat menghadapi berbagai perubahan masyarakat pada masa yang akan datang dan dapat menyesuaikannya (fit into the esisting society).
  3. Konsep Kurikulum Teknologi, tujuannya terutama pada pengembangan hasil pendidikan yang dapat ditiru (\he development of instruction products that can replicated).
  4. Konsep Kurikulum Subjek Akademik tujuannya terutama untuk melatihpikir.

RobertMGagne (1974) mengemukakan bahwa hasil dari proses pembelajaran yang terpampang dalam kurikulum, yaitu:

  1. Keterampilan intelek.
  2. Strategi kognitif (kemampuan untuk mengatur ingatan, berpikir, mengolah dan sebagainya).
  3. Informasi verbal (pengetahuan yang bersifat verbal).
  4. Keterampilan motorik (pengatur gerak pisik).
  5. Dimensi produktif.

Galen Saylor (1974) menyitir dari The Educational Policies Commission (USA) bahwa tujuan pendidikan dapat mencapai sasaran pada:

  1. Realisasi diri.
  2. Hubungan antar manusia.
  3. Efisiensiekonomi.
  4. Warga negara yang bertanggung j awab.

B.S. Bloom (1997) mengungkapkan bahwa output dari pendidikan adalah cognitive domain, affactive domain dan psychomotoric do­main (cipta, rasa, karsa/karya).

Berbagai tujuan pendidikan yang juga menjadi tujuan kurikulum dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang mempunyai sasaran yang berbeda-beda dan tertera sebagai berikut:

  1. Kalau dilihat dari hirarki tujuan ada:
  2. Tujuan pendidikan nasional, yang rumusannya ada pada Undang-Undang SISDIKNAS Bab I Pasal 3 tertulis sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
  3. Tujuan institusional

Tujuan institusional pada pendidikan dasar tertera pada PP. No. 28 Tahun 1989 Bab 0 Pasal 2 sebagai berikut: Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Tujuan pendidikan menengah adalah:

  1. Meningkatkan kemampuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan din sejalan dengan perkembangan Umu pengetahuan teknologi dan kesenian.
  2. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alain sekitar.
  3. Untuk mencapai sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, penyelenggara pendidikan menengah berpedoman kepada tujuan pendidikan nasional (PP No.29 Bab 1 Ayat 2).
  4. Tujuan pendidikan tinggi

Tujuan pendidikan tinggi adalah:

  1. Menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian.
  2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Kalau dilihat dari penyelenggara, ada:
  • Tujuan kurikulum nasional dengan maksud untuk menyeragamkan mutu lulusan untuk beberapa mata pelajaran dengan cara EBTANAS / UN.
  • Tujuan kurikulum regional dan lokal, yang bempa kurikulum muatan lokal bertujuan memberi bekal pengetahuan, keterampilan pembentukan sikap dan perilaku siswa, serta memiliki wawasan yang luas dan mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat, mampu mengembangkan serta melestarikan surnber daya alam dan kebudayaan.

Kalau dilihat dari arah kelulusan, ada:

  1. Kurikulum bertujuan akademik menyiapkan lulusannya untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Misalnya kpada lembaga pendidikan SMA dan jenjang S1,S2,S3.
  2. Kurikulum bertujuan profesi menyiapkan lulusannya untuk menghadapi lapangan kerja di masyarakat yang dibutuhkan. Lembaga pendidikan penyelenggara terdapat pada berbagai sekolah kejuruan/program S.o.l, S.o.2, S.o.3, dan S.o.4 atau programD.l,D.2,D.3,danD.4.

Jika dilihat dari sudut tujuan pendidikan baik yang tertera pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional maupun pada GBHN sasaran serta tujuan pendidikan adalah seperti apakah manusia bulat dan utuh itu? Penulis mempunyai konsep manusia utuh dan bulat itu sebagai berikut: Manusia adalah makhluk yang sangat komplek yang terdiri atas berbagai aspek pribadi tetapi merupakan kesatuan yang tunggal (unitas multiplex). Unit adalah satu, multi adalah banyak,plex adalah singkatan dari kata complex. Tiap-tiap aspek pribadi tersebut merupakan suatu sumber daya yang memerlukan perkembangan dan pemenuhan kebutuhan yangberbeda.

6.   Manusia Bulat dan Utuh

Kalau dilihat dari hakikatnya, manusia terdiri atas jiwa dan raga. Sebagai makhluk yang berjiwa terdiri atas aspek cipta, rasa, dan karsa yang masing-masing merupakan sumber daya psikis yang perlu dikembangkan. Kalau ketiga aspek tersebut berkarya akan menghasilkan kekreatifan. Cipta yang berpusat di otak kalau dikembangkan akan menghasilkan kecerdasan atau kepandaian. Rasa yang berpusat di hati kalau dibina akan menghasilkan manusia yang tahu keindahan, kesenian, dan kesusilaan. Sedang karsa adalah suatu sumber kemauan yang kalau dibina akan menghasilkan kejujuran.

Sebagai makhluk jasmani (raga) manusia membutuhkan raga yang sempurna yang berupa kesehatan. Kalau raganya berkarya dan dibina akan menghasilkan keterampilan atau keprigelan.

Kalau dilihat dari sifamya, manusia adalah sebagai makhluk sosial dan makhluk individu. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan perkembangan sosialnya atau perkembangan kemasyarakalannya. Sebagai makhluk individu manusia membutuhkan perkembangan kemandirian. Kalau dilihat dari asalnya manusia berasal dari Tuhan, oleh karenanya menusia butuli perkembangan ketaqwaan terhadap Tuhan-Nya.

Dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut, manusia selalu diharapkan dengan lingkungannya baik yang berupa pisik maupun lingkungan masyarakat. Kedua lingkungan tersebut sangat mempengaruhi perkembangan pribadi manusia. Perkembangan ilmu pengetaliuan dan teknologi yang dampaknya dapat mengubali lingkungan alam kodrat menjadi lingkungan alam buatan sangat mempenganihi perkembangan pribadi. Manusia selalu tumbuh dan berkembang secara dinamis dan diharapkan yang fleksibel terhadap lingkungan yang dihadapi baik yang berupa lingkungan pisik maupun lingkungan masyarakat yang setiap saat kena pengaruh jasa ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sesuai dengan konsep penulis yang telah dikemukakan tersebut bahwa manusia terdiri atas sembilan aspek pribadi yang masing-masing berawalan dengan huruf “K”, yaitu:”

Ketaqwaan             :  Manusia berasal dari Tuhan, perlu bertaqwa pada pencipta-Nya, tetapi jangan sampai bersifat fanatik dan dogmatis.

Kecerdasan           : Aspek pribadi dari cipta yang berpusat di otak perlu dikembangkan, tetapi jangan sampai bersifat  rasionalistis.

Kesusilaan             : Aspek pribadi dari karsa yang bersifat di hati, perlu  di bina, tetapi jangan bersifat emosionalistis.

Kejujuran               :  Aspek pribadi dari karsa yang menyebabkankita berkemampuan untuk berbuat, perlu bimbingan yang positif, tetapi jangan sampai bersifat voluntaristis.

Kekreatifan            : Karya yang harmonis dan ketiga aspek cipta, rasa, dan karsa akan menghasilkan sesuatu yang barn, perlu dilatih dan dibina sesuai dengan bakat dan minat anak, tetapi jangan sampai bersifat sombong.

Kesehatan             :  Aspek yang sangat dibutuhkan oleh raga, perlu dilatih dan dibiasakan hidup sehat, tetapi jangan sampai bersifat animalisms. Keterampilan Karya dari raga terutania dalam latihan otot perlu dilatih agar para siswa dapat prigel dan dapat hidup mandiri, tetapi jangan bersifat kurang pertimbangan akal.

Kemasyarakatan   : Manusia tidak pernah hidup sendiri, pasti butuh pertolongan orang lain, hidup bermasyarakat perlu dibina, tetapi jangan sampai bersifat altruist is. Kemandirian Manusia sebagai makhluk individu mempunyai sifat individual berbeda antara satu dengan yang lain, perlu dibina terutama dalam bakat dan minatnyahendaknya dijaga jangan sampaiinenjadi manusia egois.

Masing-masing aspek tersebut selalu berkembang secara dinamis (d), dan hendaknya bersifat fleksibel (f) dalam menghadapi lingkungan baik yang bempa lingkungan pisik (p) maupun lingkungan masyarakat (m). Kedua lingkungan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahnan (i), dan teknologi (t). Kalau kesembilan aspek tersebut berkembang atau dikembangkan secara proporsional maka akan terjadilah manusia yang Harmonis (H).

Atas dasar uraian tersebut di atas maka dalam proses pencapaian tujuan pendidikan dengan kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan dapat diajukan rumus sebagai berikut:

 

 

 

 

 

9k.df{(m + p)it} ———- H

 

Singkalan dari :

9k        = sembilan aspek pribadi yang berawalan dengan huruf “K”

df         = dikembangkan secara dinamis dan fleksibel

m         = memperhatikan pada situasi dan kondisi masyarakat

p          = memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan pisik

it          = memperhatikan perkembangan ilmu pengetahnan dan teknologi

H         = pribadi yang Harmonis

 

Perkembangan aspek-aspek pribadi tersebut kalau digambarkan diagram akan berupa sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Manusia Bulat dan Utuh yang Harmonis Rumus 9 k.df {(m + p)it}—————> H

 

Atas dasar rumus yang terdapat pada gambaran manusia bulat dan utuh yang harmonis maka yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kurikulum yang ditujukan untuk:

  1. Berbagai aspek kejiwaan anak.
  2. Perubahan dan perkembangan lingkungan, baik pisik maupun lingkungan masyarakat, termasuk kebudayaan, dan berbagai lapangan hidup yang ada.
  3. Perkembangan I P T E K S.
  4. FiIsafat pendidikan Pancasila.

 

Atas dasar pengalaman kegagalan perkembangan kurikulum diIndonesiasering disebabkan oleh beberapa hambatan sebagai berikut:

  1. Kurang jelasnya juklak/juknis bagi tenaga lapangan.
  2. Kurangnya tenaga supervisi yang memenuhi harapan.
  3. Tujuan yang tidakjelas atau terlalu ideal sehingga timbul gap antara hal-hal yangdiharapkan dengan keadaan sebenarnya.
  4. Kurangnya fasilitaspendukung.
  5. Kadang-kadang sasarannya untuk menghabiskan dana sehingga melupakan output-nya.
  6. Kriteria keberhasilan untuk mencapai tujuan tidakjelas.
  7. Kurang sinkron antara peneliti, pelaksana dan pengambil keptusan.
  8. Kurikulum baru, hanya baik atas dasar penilaian di belakang meja.
  9. Perencanaan kurikulum kurang berorientasi pada tantangan zaman.
  10. Adanya kesan ganti pejabat ganti kebijaksanaan.
  11. Tujuan pembaharuan pendidikan sasarannya terlalu besar ? Misalnya untuk pembaharuan di sekolah dasar, siswa kurang lebih 25juta, guru kurang lebih 1 juta orang, sarana dan prasarana? Bahan ajar? Dan sebagainya.

 

 

  1. 7.   ORGANISASI KURIKULUM

 

Dalam   perjalanan  pendidikan   sejak  dahulu  sampai   saat  ini,   sudah  disusun kurikulum yang dikenal dengan istilah Subject Centeried Curruculum atau kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran. Ada3 jenis kurikulum yang di organisir dekolah yang masing-masing mempunyai kekuatan dan keterbatasan yaitu[8]:

 

1)      Kurikulum terpisah (Separate Subject Curriculum) Di sini mata pelajaran diberikan secara terpisah dan tidak berkaitan satu dengan yang lain. Misalnya; IPS, IPA, Agama, Basaha dan sebagainya

 

 

 

 

 

Dalam oranganisasi kurikulum seperti ini, ada berapa keuntungan seperti: Penyanjian logis dan sistematis tanpa harus dikaitkan dengan yang lain, pengorganisasiannya sederhana, muda dievaluasi, mudah digunakan oleh guru, dan sebagainya. Namun, kelemahannya adalah: faktor pengalaman praktis dari peserta didik kurang mendapat perhatian, setiap pokok bahasan dipelajari secara teori sesuai buku pedoman dan sesuai peristiwa masa lampau, Pembelajaran bersifat menghafal, Unsur factual atau sosial anak yang terus berkembang kurang diperhitungkan. Bersifat tradisi, terbatas, dan statis.

 

2)    Kurikulum Korelatif (Correlated Cirriculum) Kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, jadt saling terkait satu dengan yang lain tetapi tetap memperhatikan karakteristik masing-masing. Kelebihannya; Muatan kurikulum untuk setiap subjek dikorelasikan satu dengan yang lain, shingga siswa diperlengkapi dengan pengetahuan yang saling terkait, pengetahuan siswa akan luas karena dikaitkan satu dengan lain, lebih mengutamakan pemaham dari prinsip-prinsip dari pada pengetahuan dan penguasaan fakta. Keterbatsan kurikulum ini; bahwa siswa yang pasif pemalu akan tertinggal dibelakang, ada guru yang tidak menguasai bidang lain sehingga sulit mengaitkannya, membutuhkan dukungan dana, waktu dan tenaga dari banyak pihak.

 

3)      Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum) Dalam bentuk kurikulum seperti ini pelajaran dipusatkan pada topik tertentu, misalnya suatu masalah dimana semua mata pelajaran dirancang dengan mengacu pada topik tersebut dan pelajaran disampaikan secara terpadu. Apa yang dipelajari di sekolah, disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah. Siswa belajar melalui pemecahan masalah yang disampaikan melalui kegiatan belajar-mengajar. Pemecahan masalah oleh siswa dapat diambil dari berbagai sumber seperti :

a)      Dari lingkungan sekitar : kebun binatang, kantor pos, taman, lapangan terbang, sawah, stasiun dan sebagainya.

b)      Dari orang yang dapat memberikan keterangan : tukang kayu, tukang becak, kepala kantor, saudagar dan sebagainya.

c)    Dari alat peraga : globe, peta, daftar-daftar, gamb jika mungkin film, radio dan sebagainya.

d)    Dari bacaan : buku, majalah, suratkabar, ensiklopedi, dan sebagainya[9].

 

Kebaikan kurikulum seperti ini, segalah masalah dibicarakan dalam unit sangat bertalian erat, memungkinkan adanya hubungan antar sekolah dan masyarakat, sesuai dengan tuntutan perkembangan, penyajian bahan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Namun, kelemahannya juga tetap ada seperti; terlalu memberatkan tugas guru, kurang memungkin untuk ujian umum, sarana dan parasana kurang memadai, oraganisasinya tidak logis dan kirang sistematis dan sebagainya.

 

Memperhatikan kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum menuntut kreatif dan progresif guru dan siswa untuk sama-sama mengembangkan diri. Guru harus profesional karena tugasnya berat, yaitu berusaha mengembangkan pengetahuan, emosional, sosial, dan keterampiian secara terpadu. Jika hal ini berhasil, siswa mampu hidup harmonis dengan iingkungannya kini, disini dan yang akan datang.

 

  1. 8.   KOMPONEN KURIKULUM

 

Menurut S. Nasution dalam kurikulum minimal ada 4 komponen, yaitu Tujuan, Bahan, Proses Belajar Mengajar dan Evaluasi[10]. Hal sama juga disampikan Prof. Dr. Nana Syaodhi Sukmadinata, dalam bukunya Pengembangan Kurikulum, bahwa komponem utama/dasar dalam sebuah kurikulum adalah: tujuan, bahan ajar, metode-alat serta evaluasi itulah yang disebut Ke empat komponen saling terkait dan tldak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Komponen-komponen ini saling berinteraksi dan berlangsung dalam lingkungan tertentu yang mempengaruhinya seperti: alam, sosial, budaya, ekonomi, politik, agama dan sebagainya.

 

Kurikulum Berbabasis Kompetensi yang sedang digumuli disetiap Tingkat Satuan Pendididikan untuk digunakan diIndonesiakomponen utamanya adalah: Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar. Komponen pokok ini kemudian dikembangkan dalam kedalam Indikator dan Materi Pokok, tema/judul perjenjang kelas, judul/topik pembelajaran, alokasi waktu, sumber belajar dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan lampiran yang ada pada lembaran-lembaran terakhir.

 

 


[1] Prof Dr. S Nasution MA, Asas-osos Krikulum. Bumi Aksara 2005., 1-2

[2] Webster’s Third New International Dictionary, Vol. I (Chicago, Tokyo, Paris: Encyclopedia Britannica, Inc., 1986)., 557.

[3] Victoria Neufeldt (ed.)Webster’s New World Dictionary, , (New York; Webster’s New World, 1988)., 340.

[4] Romine Stephen, Building the High School Curriculum, New York : The Ronald Press Company 1954. 14

[5] Prof Dr. S Nasution MA,OpCit 48

[6] Prof. Drs. H. Dakir, Perencanaan dan pengembangan Kurikulum, Rineka Cipta, Jakarta, 2004, 13

[7] Ibid, 21

[8] Bnd, S. Nasotion, 2005

[9] S. Nasution, Asas-asa Kurikulum., Bumi Aksara, 1995., 198

[10] Ibid., 18

Did you like this? Share it:
This entry was posted in BAHAN AJAR, KURIKULIM PAK 1 and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>